"Malam ini karena tinggal 1 minggu menjelang malam takbiran, kita bagi tugas buat nglatih anak anak dan membuat barisan serta kostum dan lampion." kata Mbak Menik, kordinator panitia khusus anak anak - kami memanggilnya seperti itu- malam itu setelah shalat tarawih.
"Hari ini kita bagi bagi tugas, bagian lampion sudah ditangani oleh bapak Warni. Soal barisan dan Musik pengiring takbir,,,", Mbak menik terdiam sejenak
"Kamu ya Sat!" lanjutnya
Whaat! aku melambaikan tangan tanda tak mau. " Deni aja Mbak" saranku mengelak
"Ya deni sama kamu"
Weladalah sama aja bohong ni!! Batinku dalam hati.
"Pokoknya sudah deal, besok kita tinggal menjalankan. Oya, tema kali ini cinta tanah air. silakan teman teman menyesuaikan." lanjutnya sebelum meninggalkan tempat duduknya
***
Dalam perjalanan pulang aku berfikir. Bagaimana mungkin aku yang tak bakat sedikit pun dalam musik diminta untuk melatih musik anak anak? tapi aku pasti bisa. Aku yakin Allah akan membantuku. Ya, aku yakin pasti bisa.
***
Esok malamnya, aku bertanya seluk beluk bagaimana nantinya barisan dan musik ini akan dibentuk. Setelah konsultasi panjang lebar maka aku putuskan untuk mengambil ide terunik yang aku temukan secara tak sengaja dalam perjalanan pulang. Pelan tapi pasti, satu persatu anak dan alat musik aku kumpulkan. hingga esoknya kami sudah siap dan memulai untuk latihan perdana kami.
***
Minggu, 5 September 2010, jam 5 pagi setelah khutbah subuh selesai.
"Mas, hari ini jadi latian to?" tanya Alan, seorang anak yang aku tunjuk untuk ikut dalam barisan. Sebenarnya bukan aku yang menunjuknya, Tapi pak Warni, nah Alan ini anaknya Pak Warni jadi nggak heran kalau dia yang ditunjuk pertama kali.
"Jadi dong" jawabku.
" Alat musiknya apaan mas??" Tanya Billy yang juga salah satu personel musik.
" ya nanti lah, liat sendiri"
kami bertiga berjalan beriringan ke rumahku. Sembari menunggu anak anak lain berkumpul. Aku mengeluarkan alat musik dari kamarku. Galon, kaleng, bambu, kayu dan botol. Anak anak terlihat tercengang kemudian menambahkan " Mas, aku ada galon lagi di rumah, boleh aku ambil??"
"Boleh, yang punya alat musik lain silakan dibawa kesini" perintahku
anak anak berhambur keluar mencari alat musiknya masing masing. Dapatlah aku tambahan 2 galon, kentongan, dan kaleng lain yang suaranya bikin berisik.
"Ini kok pada belum datang kemana?" tanyaku
"masih pada tidur mas"
"Lho ini pada niat nggak sih?? ya udah seadanya kita latian dulu di lapangan"
Begitu perintahku selesai, anak anak dengan antusias berlari ke lapangan.
Meski saat itu jumalah personil kami tidak lengkap, tapi dengan doa dan sedikit latihan mereka kelihatan kompak mengumandangkan asma Allah yang Maha Besar ke seantero kampung. Cuma ngebenahin sedikit permainan mereka, tugas ini terasa ringan. Sepertinya anak anak ini memang berbakat. Tak perlu waktu lama mereka sudah mahir memainkan alat musik Klothekan alias drumblek itu.
***
Beberapa hari kemudian, sampailah pada hari latihan yang terakhir. Musik dan Takbir oke. Barisan dah mantap. Tinggal formasi yang belum bener.
"Ayo dik! Semangat!! ini hari terakhir latihan."
iseng iseng aku abadikan kegiatan latihan formasi terakhir Drumblek itu dengan kamera hapeku. Ini dia kalau mau ikut nonton
dalam formasi ini memang belum baik tapi aku jamin pasti kamu terpesona melihat gerakan kami waktu penilaian.
***
Setelah latihan terakhir itu, anak anak aku minta untuk beristirahat di rumah. Sementara aku mnghias alat musik yang mereka mainkan. tak disangka, anak anak datang padaku siang itu." Sini mas aku bantu" tawar anak anak
Aku sungguh terharu mendengar kata itu. Betapa mereka peduli padaku. Aku harus memberi mereka sebuah penghargaan atas semua ini. Oke itu difikirkan nanti. Sekarang bikin hiasan dulu.
***
Sore hari menjelang malam takbiran. Bergegas aku pergi membeli stiker yang besar besar sekedar untuk award anak anak yang bekerja keras. Tak sabar menanti malam ini. Adik adikku, ayo kita berjuang bersama!!
***
Malam hari dengan semangat anak anak mengumandangkan takbir yang bergema hingga ke alam semesta. memankan musik dengan hati mereka. Lelah memang, berputar sejauh hampir 2 KM sambil menabuh dan bertakbir tapi kami gembira.
Namun satu hal yang membuatku sedikit kecewa. Kami hanya mendapat kenang kenangan atas kerja keras kami. Bukan kami mau mencari kemenangan, namun melihat wajah anak anak membuatku risau. Dengan sedikit perasaan bersalah aku menghibur anak anak dan diriku sendiri dengan mengatakan " sungguh kalian hebat!! kalau hanya piala nanti aku buatkan satu orang satu. Tulisannya juara 1 Takbir se dunia akhirat. Tak apalah dik, aku ada sesuatu buat kalian di rumah, habis ini ambillah!"
sedikit raut senang kini tergambr di wajah mereka.
Salam Sayang, Cinta dan penghargaan tertinggi untuk anak anak. Erdin, Alan ,Gandhi, Dito, Adit, Aditya, Yoga, Fani, Cahyo, Adam, Billy dan Reihan. Tak lupa Ardi dan Ilham yg terpaksa aku eliminasi. Semoga kalian sehat selalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan cuma baca doang,,komen lah,,selagi komen masih dihalakan