"ndrx, aku ws tekan nduwur, gek endang" begitu sms yang aku terima dari Taufan. "yoh, sik takmunggah" jawabku saat itu. Hari itu, senin 24 Januari 2011. Kami dan beberapa teman lain berencana untuk menghadiri undangan pernikahan teman kami waktu sekolah. Endarwati namanya. Kini dia telah mendapatkan pasangan hidupnya. Dengan koordinasi yang baik oleh Henu, hari itu juga pukul 08.00 WIB kami berangkat ke "base camp" kami. Rumah Agung. Rumah yang sudah jadi tempat janjian kami kemarin. Dengan berboncengan sepeda motor, segera kami berangkat. Dengan asumsi kami sampai ke Wonogiri -tanah kelahiran Endar- dalam waktu kurang lebih 4 jam.
Sampailah kami di perempatan ringroad utara. Beberapa ratus meter lagi dari rumah Agung. Hapeku bergetar, sebuah sms menunggu untuk dibaca. "dah nyampe mana ndri?",dari Henu. "nyampe 1/4an ringroad,kamu dh nyampe?" balasku. "wah maaf, hari ini aku ada agenda ddi kampus, kirain dah sampai di t4 Endar" jawab Henu menutup sesi sms hari itu. Beberapa menit kemudian sampailah kami ke rumah Agung. Masih sepi. "Pak, Agung ada?" tanyaku pada Paman Agung yang kebetulan lagi nongkrong disitu. Dan bla..bla..bla sedikit basa basi kami siap berangkat.
Namun sayang sekali, rencana hari itu kami berangkat berlima. Kini tinggal bertiga. Taufan, Agung dan aku. Yang lain sibuk dengan urusan akademi mereka. Bukan masalah, yang penting ada perwakilan dari teman SMK Endar yang kesana. Jam sudah menunjuk pukul 09.00 lebih. Kami segera berangkat. Membawa 2 buah kado yang berasal dari patungan teman teman sekelas. kami tncap gas dengan dua motor. Maklum, aku yang sudah segede ini belum bisa nyupir motor, hehehe
Dengan bertanya berkali kali, sampai ada guyonan diantara kami "Wah, untung tanyanya gratis, kalo bayar kita habis duit buat tanya doang,wakakakakak. Dan satu lagi "Kalo kita bertanya di beri hadiah, pasti kita dapat payung atau jam dinding, hahahaha". Setelah melewati jalan aspal yang panjang, panas, bergelombang, bahkan jalan offroad yang ekstrim. Akhirnya sampai juga kami ke tempat upacara yang sakral itu.
Kami dipersilakan masuk oleh salah satu kerabat Endar. Dengan pakaian kami yang sederhana namun pantas, dan penampilan kmi yang pas pasan tapi menawan.Setelah bersalaman dengan among tamu dan menyerahkan kado yang kami bawa, kami dipersilakan duduk dan menikmati sajian kecil yang ada di atas meja itu. Sajian yang sederhana namun mengundang selera dan nikmat rasanya.
Saat kami datang sedang dilangsungkan segmen foto keluarga, entah apa sebutannya disana. Dan dilanjutkan dengan ganti busana oleh kedua mempelai. kata Ayahanda Endar, " Tadi akadnya jam sepuluh, setelah ini (pengantin ganti busana) ad satu acara lagi dan yang terakhir, silakan nanti kalau mau ambil momen.". Kami menurut saja, caranya beda dengan yang kami ketahui biasanya. Ya, itulah Indonesia dengan keberagamannya. Tiba tiba dari jauh muncullah sekelompok orang dengan pakian adat. Mereka ini yang mengawal pengantin ke ruang ganti. Diantara mereka ada seorang yang senior yang memimpin barisan dengan lngkah yang sangat pelan. Di belkangnya sekumpulan remaj menyandang baju adat jawa mengikuti bapak itu. Ada gadis yang cantik, (sampai salah satu dari kami naksir :) ), ada juga yang menawan. Tapi tak ada pemuda yang lebih rupawan dari kami, hehehe.
Setelah mempelai berganti baju dengan warna dominan kuning (setela sebelumnya hitam) kami memasuki acara selanjutnya. Resepsi. Dengan dipersilakan sang Pranata Adicara kami mulai menyantap makanan yang lezat itu. Setelah itu kami diminta untuk berfoto bersama pengantin. Setelah menunggu sejenak dan dipastikan acara telah berakhir, kami berpamitan.
"Sudah mau pulang. Nggak nginap aja mas?" tawar Ibunda endar dengan senyum manisnya.
"Mboten bu. Sudah sore, kami langsungan saja"
Kami bersalaman dan menyampikan salam dari semua teman yang tak bisa hadir saaat itu kepada kedua mempelai. Dan kami keluar dari rungan berkarpet mrambut/gabah itu. Namun sebelum pulang, beberapa bungkusan diberikan pada kami "Nggo syarat" katanya. Selepas itu kami pulang dengan hati ang riang walau lelah melintang,halah.
TAMAT
aku dan duniaku
sebuah tulisan yang menceritakan tetang aku dan duniaku
Selamat Datang Di Duniaku
dunia kecil tempatku berbagi
Senin, 31 Januari 2011
Senin, 13 Desember 2010
Jam Karet

Satu sore aku bertemu dengan seorang sahabat. Aku menghampirinya dan menanyakan sesuatu padanya. "Hai, ada apa ni sendirian?"
"ini, lagi nunggu temen, katanya mau barengan maen jam 3. Tapi nyampe sekarang kok belom dateng"
Aku lirik jam tanganku. Sudah hampir jam 4. Apa semua orang Indonesia kayak gini ya?
Pernah mengalami hal seperti itu? Menyebalkan bukan? Sudah dibuat janji tapi molor sampai lama. Itu pun masih mending daripada setelah itu bilang "Maaf, nggak jadi". Wah, pasti bakalan dongkol tu. kalau pakai alasan macet atau ketiduran atau alasan lain yang bisa dipertanggungjawabkan sih oke. Kalau nggak ada alasannya? Nah itulah permasalahan kita, Bangsa Indonesia. Yang notabene diajari disiplin sejak kecil. Sejak masuk usia sekolah tepatnya. Waktu kita sekolah sepertinya tak ada kata kompromi untuk yang terlambat. Tapi untuk acara rapat atau pemenuhan undangan itu bakal jadi soal lain. Kenapa bisa begitu? Ternyata setelah aku lakukan penelitian tentang jam karet ini kepada 100 responden, jawabannya bermacam macam. namun ada jawaban tertinggi. Berikut jawaban tertinggi yang diperolah dari survei tersebut
1. Mindset atau Pola Pikir
Jawaban tertinggi pertama adalah Mindset. Jawaban ini berprosentase 72%. Yaitu cara berpikir orang tentang waktu untuk menghadiri acara. Biasanya mereka akan berfikir "Alah, kalo orang Indonesia tu pada suka telat, aku ikut nelat juga deh." atau "Bentar ah,biasanya diundangan ditulis jam 8 nanti mulai jam 9 kok." atau "Bentar ah, yang lain pada belum berangkat."
Nah ini yang harus dirubah. kalo semua orang berfikir seperti ini kapan disiplinnya. Sekarang mari kita coba mengubah mindset ini. kita rubah menjadi mindset yang disiplin. Kalau satu dari kita memulai untuk disiplin, diharapkan orang orang disekitar kita berpikir "Wah dah ada temennya, berangkat ah." Ya lebih baik ada sedikit yang tepat waktu daripada tidak sama sekali.
Waktunya tidak valid
Inilah kelemahan kalau kita buat janji atau buat undangan. Alasan ini dipakai 24% responden. Biasanya diundangan dicantumkan waktu "19.30 (ba'da isya)". Lha ini, jam 9 malam pun ba'da Isya. Apalagi kalau janjian "Iya nanti aku jemput jam 3-an". Jamnya tepat sih jam 3, tapi "an"-nya ini yang bikin molor. Bisa jadi "an" ini artinya lebih 60 menit. Kan kita sama aja bikin janji jam 4. nah sekarang kita mulai ganti caranya. Yaitu dengan mencantumkan waktu yang tepat. Atau malah dikasih interval waktunya sekalian, Misal "jam 15.00 WIB tepat" atau "15.00 sampai 16.00 WIB". Itu baru tepat dan kena sasaran. Dengan konsekuensi kalau kita yang buat acara maka pada waktu yang telah ditentukan itu kita harus siap luar dalam. Jangan sampai tidak.
lain lain
ini alasan 4% responden. Biasanya mereka bilang "lagi sibuk kerja(dengan alasan yang nyata)" atau "acara TVnya lagi seru" atau juga "macet dijalan" dan alasan lainnya.
Sekarang, apa kita masih mau membuat orang lain menunggu?atau masih suka menunggu orang lain? Ayo kita belajar disiplin!!
Selasa, 23 November 2010
Jangan Pernah Takut
Suatu hari aku pernah meras ragu. Semua hanya gara gara satu omongan seseorang. Omongannya memang tak bisa disalahkan. Dan aku merasa kalah. Dalam hati sat itu aku berpikir " Ya, dia benar, aku ini orang yang tak bisa berbuat apa apa. Aku tak berkuasa dibanding dia. Ya, mungkin aku hanya onggokan sampah hidup untuk orang orang disekitarku". Itu yang saat itu kupikirkan. Entahlah, waktu itu aku sempat putus asa. Tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku tak berdaya jika dibanding dengannya. Jelas saat itu aku kalah. Dia telah merobek impianku.
Namun beberapa saat setelah kejadian itu. Tuhan rupanya menunjukkan ayatNya yang tak tertuliskan padaku. Pagi itu sepulang dari pasar, dengan gontai menuntun sepedaku. Namun sesuatu menuntunku untuk berhenti. Berhenti tepat pada sumber suara berisik yang terdengar dari dalam pasar. Aku terdiam sejenak. Mengamati dan mempelajari apa yang sebenarnya terjadi.
Seekor anjing menyalak kepada seekor kucing yang ketakukan. kucing hitam itu seakan berteriak "pergilah!". Dan si anjing terus menyalak, "Lewati aku kalau kau memang berani.", Dengan ketakutannya, sang kucing mulai meninggikan suaranya, "sudahlah! aku tak mau berurusan denganmu! apa salahku sampai kau begini padaku?"
"Kau jelas salah, kucing. Salah tubuhmu tak lebih besar dariku! Sekarang apa masih kau mengeong seperti itu?" kata anjing
"Kenapa harus takut padamu? Kamu hanya menyalak dengan keras sampai seisi pasar dengar. Kalau kau memang lebih hebat dariku, ayo! kutantang kau!" Kucing menantng dengan eongannya yang lirih namun berani.
"APA!!" Anjing tak terima dengan perkataan kucing
"Ayo majulah kalau kau memang berani!" Perlahan tapi pasti, kucing itu keluar dari persembunyiannya. Anjing pun menyalak makin keras. Tapi aneh, si kucing makin berani. Si anjing dengan perasaan malunya kemudian meninggalkan kucing kecil itu dengan gonggongannya yang masih terdengar. Kucing itu berlari. entah kemana
Lalu saat itu dalam hati aku berpikir "YA, AKULAH KUCING ITU. Aku harus berani sepertinya!"
================================================================================
itulah sepenggal pengalamanku yang semoga bisa membawa hikmah di hidup teman teman. Ini nyata. Karena Tuhan selalu tahu apa yang kita butuhkan
Namun beberapa saat setelah kejadian itu. Tuhan rupanya menunjukkan ayatNya yang tak tertuliskan padaku. Pagi itu sepulang dari pasar, dengan gontai menuntun sepedaku. Namun sesuatu menuntunku untuk berhenti. Berhenti tepat pada sumber suara berisik yang terdengar dari dalam pasar. Aku terdiam sejenak. Mengamati dan mempelajari apa yang sebenarnya terjadi.
Seekor anjing menyalak kepada seekor kucing yang ketakukan. kucing hitam itu seakan berteriak "pergilah!". Dan si anjing terus menyalak, "Lewati aku kalau kau memang berani.", Dengan ketakutannya, sang kucing mulai meninggikan suaranya, "sudahlah! aku tak mau berurusan denganmu! apa salahku sampai kau begini padaku?"
"Kau jelas salah, kucing. Salah tubuhmu tak lebih besar dariku! Sekarang apa masih kau mengeong seperti itu?" kata anjing
"Kenapa harus takut padamu? Kamu hanya menyalak dengan keras sampai seisi pasar dengar. Kalau kau memang lebih hebat dariku, ayo! kutantang kau!" Kucing menantng dengan eongannya yang lirih namun berani.
"APA!!" Anjing tak terima dengan perkataan kucing
"Ayo majulah kalau kau memang berani!" Perlahan tapi pasti, kucing itu keluar dari persembunyiannya. Anjing pun menyalak makin keras. Tapi aneh, si kucing makin berani. Si anjing dengan perasaan malunya kemudian meninggalkan kucing kecil itu dengan gonggongannya yang masih terdengar. Kucing itu berlari. entah kemana
Lalu saat itu dalam hati aku berpikir "YA, AKULAH KUCING ITU. Aku harus berani sepertinya!"
================================================================================
itulah sepenggal pengalamanku yang semoga bisa membawa hikmah di hidup teman teman. Ini nyata. Karena Tuhan selalu tahu apa yang kita butuhkan
Minggu, 31 Oktober 2010
Coba Ambil Hikmahnya
belakangan ini kita tahu banyak bencana melanda bumi kita tercinta. Mulai dari banjir, puting beliung, gempa bumi, tsunami, hingga gunung meletus. Sebagian dari kita akan menganggap hal ini adalah peringatan dari Tuhan untuk kita. Sebagian lagi akan menganggap ini adalah fenomena alam yang biasa terjadi, mengingat umur bumi yang sudah tua. Apapun itu, bahwa segala hal mempunyai makna untuk dipelajari. Bukan hanya kejadian yang mencekam semata. namn semua pasti ada positifnya. Ya, cuma denan positif thinking itu hidup akan terasa lebih nyaman. Mari kita cari positifnya.
Waktunya bumi berbenah, waktunya manusia berbenah
Sekian lama kita hidup di bumi sebagai khalifah, Pernakah terfikir kita sering membuat kerusakan? Apakah kita sudah melakkan yang terbaik untuk semua orang? Itu juga ayat ayat Tuhan yang tak tertulis. Pesan yang seperti mengatakan " Jaga tempat kalian berpijak dan berteduh. Jangan takut,kami hanya sakit. Kami begini agar kami sembuh"
Sebuah kebaikan setelah bencana
Biasanya saat ada bencana besar seperti ini hati kecil kita (buat yang masih punya) akan tergerak untuk menolong. Secara otomatis Jiwa sosial kita tergugah. Kalo nggak ada momen kayak gini, entah kapan kita bisa jadi manusia yang lebih baik.
Bumi jadi lebih baik
Setelah bumi bergejolak, Bumi mengalami adaptasi. Seperti mahluk hidup, adaptasi ini memang butuh perubahan. Dan saat ini itulah yang terjadi.
Manusia jadi lebih baik
Selain rasa sosial, ternyata kita yang ditimpa bencana akan mendapat poin lain. Tabah, Sabar, Kuat dan lebih beriman. Ya kan?
Itun sedikit dari opini saya. Silakan setuju atau silakan tidak setuju. Tapi coba renungkan semua yang terjadi.
Waktunya bumi berbenah, waktunya manusia berbenah
Sekian lama kita hidup di bumi sebagai khalifah, Pernakah terfikir kita sering membuat kerusakan? Apakah kita sudah melakkan yang terbaik untuk semua orang? Itu juga ayat ayat Tuhan yang tak tertulis. Pesan yang seperti mengatakan " Jaga tempat kalian berpijak dan berteduh. Jangan takut,kami hanya sakit. Kami begini agar kami sembuh"
Sebuah kebaikan setelah bencana
Biasanya saat ada bencana besar seperti ini hati kecil kita (buat yang masih punya) akan tergerak untuk menolong. Secara otomatis Jiwa sosial kita tergugah. Kalo nggak ada momen kayak gini, entah kapan kita bisa jadi manusia yang lebih baik.
Bumi jadi lebih baik
Setelah bumi bergejolak, Bumi mengalami adaptasi. Seperti mahluk hidup, adaptasi ini memang butuh perubahan. Dan saat ini itulah yang terjadi.
Manusia jadi lebih baik
Selain rasa sosial, ternyata kita yang ditimpa bencana akan mendapat poin lain. Tabah, Sabar, Kuat dan lebih beriman. Ya kan?
Itun sedikit dari opini saya. Silakan setuju atau silakan tidak setuju. Tapi coba renungkan semua yang terjadi.
Minggu, 03 Oktober 2010
Berburu Tempat magang
'maaf mas, ga bisa'
selalu saja begitu jawabnya. Huft bingung aku. Sudah beberapa mencari tempat magang tapi ga dapet juga. Kami memang berkelompok. Namun baru beberapa dari kami yang dapat magang.
' Gimana Sat?' tanya teman teman yang lain saat menungguku di rumah.
' Maaf Pak, pada ga bisa'
kami sudah lelah. Ingin rasanya mengakhiri pencarian ini. Tapi ini harus. Aku tak bisa apa apa lagi.
Semua tempat magang yang kami tanyai selalu menjawab dengan pernyataan yang beda namun bermakna sama. "nggak muat tempatnya mas", "nggak ada pembimbingnya, Mas atau cuma menggelengkan kepala. Kemana harus kucari lagi.
=====
Waktunya hampir habis. Hampir tanggal 1 Oktober. Aku belum juga dapat magang. Padahal deadlinenya tanggl 1 Oktober itu. Teman teman yang lain sebagian sudah. Tinggal beberap gelintir lgi. Sebagian lagi malah sudah bekerja di tempat lain. Beruntungnya mereka. Hingga akhirnya datang kabar gembira itu.
Di sebuah konter di daerah Kranggan menerima penawaran magang kami. Mereka minta tiga orang. Dan aku salah satunya. Senangnya aku. Lalu kami rencanakan pertemuan di Disnakertrans Jogja esoknya.
Esoknya aku harus menahan kesenanganku sesaat. Seorang Teman memita bantuan untuk oper magang denganku. Dan, dengan iklas dan terpaksa, aku setuju. apalagi sebuah konter ddi Jogjatronik yang letaknya lebih dekat dari rumah menanti kedantangan kami. Dengan Asumsi mereka akan menerima kami magang di sana.
Namun kami salah. Mereka menanti untuk sebuah kabar buruk. Kami ditolak. Bagaimana ini??
Pikir punya pikir ternyata Tuhan punya jalan lain. Seorang teman menawarkan bantuan magng dengan sistem kerja yang fleksibel. Silakan kesini kalo memang benar benar perlu. Wah Cuma nulis absen dan datng saat dibutuhkan saja. Memang rencan Tuhan yang terbaik.
=================================================================================
Itu dia sedikit pengalamanku. Sedikit bisa diambil pelajarannya. Terus berdoa, berusaha, pantang menyerah, dan Tuhan akn selalu bersama kita
selalu saja begitu jawabnya. Huft bingung aku. Sudah beberapa mencari tempat magang tapi ga dapet juga. Kami memang berkelompok. Namun baru beberapa dari kami yang dapat magang.
' Gimana Sat?' tanya teman teman yang lain saat menungguku di rumah.
' Maaf Pak, pada ga bisa'
kami sudah lelah. Ingin rasanya mengakhiri pencarian ini. Tapi ini harus. Aku tak bisa apa apa lagi.
Semua tempat magang yang kami tanyai selalu menjawab dengan pernyataan yang beda namun bermakna sama. "nggak muat tempatnya mas", "nggak ada pembimbingnya, Mas atau cuma menggelengkan kepala. Kemana harus kucari lagi.
=====
Waktunya hampir habis. Hampir tanggal 1 Oktober. Aku belum juga dapat magang. Padahal deadlinenya tanggl 1 Oktober itu. Teman teman yang lain sebagian sudah. Tinggal beberap gelintir lgi. Sebagian lagi malah sudah bekerja di tempat lain. Beruntungnya mereka. Hingga akhirnya datang kabar gembira itu.
Di sebuah konter di daerah Kranggan menerima penawaran magang kami. Mereka minta tiga orang. Dan aku salah satunya. Senangnya aku. Lalu kami rencanakan pertemuan di Disnakertrans Jogja esoknya.
Esoknya aku harus menahan kesenanganku sesaat. Seorang Teman memita bantuan untuk oper magang denganku. Dan, dengan iklas dan terpaksa, aku setuju. apalagi sebuah konter ddi Jogjatronik yang letaknya lebih dekat dari rumah menanti kedantangan kami. Dengan Asumsi mereka akan menerima kami magang di sana.
Namun kami salah. Mereka menanti untuk sebuah kabar buruk. Kami ditolak. Bagaimana ini??
Pikir punya pikir ternyata Tuhan punya jalan lain. Seorang teman menawarkan bantuan magng dengan sistem kerja yang fleksibel. Silakan kesini kalo memang benar benar perlu. Wah Cuma nulis absen dan datng saat dibutuhkan saja. Memang rencan Tuhan yang terbaik.
=================================================================================
Itu dia sedikit pengalamanku. Sedikit bisa diambil pelajarannya. Terus berdoa, berusaha, pantang menyerah, dan Tuhan akn selalu bersama kita
Langganan:
Postingan (Atom)